Sejak usia SD saya sudah gandrung bermain game. Dulu, kegiatan gaming saya terbatas pada platform PlayStation, tetapi saya tidak pernah mendapat kesempatan upgrade ke PlayStation 2. Akhirnya, saya berpindah ke game-game komputer karena kebetulan ada komputer keluarga yang bisa dipakai di rumah. Sejak saat itu saya jadi fokus gaming di platform PC.

Kegemaran bermain video game kemudian berkembang menjadi ketertarikan terhadap komputer. Saya suka mengamati perkembangan teknologi komputer dan ngulik pengaturan-pengaturan di laptop. Sepanjang masa remaja pun saya menyimpan keinginan membangun PC sendiri.

PC Pertama

Impian membangun PC baru terwujud sewaktu saya duduk di bangku kuliah tingkat akhir. Suatu hari di penghujung semester mendekati UAS, dengan sponsor orang tua, saya berangkat ke mangga dua untuk membeli dan merakit PC pertama saya.

croppedOldPC

PC pertama saya memiliki spek yang cukup tinggi pada zamannya. Motherboard Chipset Intel H97, prosesor Intel i5-4590 dengan aftermarket cooler model tower Raijintek Aidos, RAM 8GB DDR3, GPU MSI GTX 970, PSU 80 Plus Gold berdaya 550W, dan Hard Disk Drive berkapasitas 2TB. Pada zamannya, hampir semua game dapat dimainkan "mentok kanan" di resolusi 1080p.

PC tersebut menemani saya sampai belum lama ini, berarti umurnya sudah sekitar lima tahun. Lima tahun dalam dunia teknologi perkomputeran adalah jangka waktu yang cukup revolusioner. Sudah banyak sekali teknologi baru bermunculan, atau teknologi yang dulu merupakan kemewahan, sekarang sudah menjadi fitur dasar. Misalnya saja, dengan jumlah uang yang lebih sedikit, Anda bisa mendapatkan Hard Disk Drive dengan kapasitas dua kali lipat daripada lima tahun lalu.

Karena usianya saya rasa, tanpa mengurangi rasa hormat, sudah cukup usang, pada awal tahun 2020 ini saya meniatkan akan menabung untuk meremajakan PC saya.

Peremajaan, atau Pembuatan Baru?

Sebenarnya, saya sudah beberapa kali melakukan penggantian komponen. Di tahun 2018 saya mengganti Motherboard karena Motherboard sebelumnya rusak. Kemudian, saya mengganti RAM dengan kit 2x8GB DDR3 1600MHz dan memasang NVMe SSD Samsung yang secara ajaib model terbarunya lebih murah hampir 50% dari generasi pendahulunya. Masih di tahun yang sama, saya mengganti GPU dengan MSI GTX 1070 Ti yang turun harga lebih dari dua juta rupiah, akibat crash pasar cryptocurrency (sebelumnya harga GPU melangit karena diborong penambang Bitcoin). Saya melakukan upgrade lagi pada akhir 2019 untuk mengejar performa dengan mengganti prosesor i5 saya dengan i7-4790, dan menambah RAM sehingga menjadi 32GB.

Dengan segala upaya peremajaan tersebut, saya tetap harus menghadapi kenyataan bahwa pada hakikatnya jati diri PC itu tetap terkungkung spesifikasi chipset-nya. Prosesornya hanya mendukung sampai generasi Haswell Refresh yang mulai (atau sudah?) ketinggalan zaman. Selain itu, RAMnya hanya mendukung DDR3.

Sebenarnya memang ia masih bekerja dengan baik, dan jika hanya dilihat dari kemampuan bekerjanya, sebenarnya tidak perlu peremajaan pun ia masih berjalan baik. Pada titik ini memang hanya hati saya, yang sudah kadung digandrungi hobi membangun PC, yang menentukan.

Akhirnya, saya mematok target membangun sistem baru berbasis AMD Ryzen karena lebih baik dari segi price-to-performance dan konsumsi energi daripada basis Intel yang sebanding. Sebetulnya, pada awalnya saya menargetkan Ryzen 4000 Series yang dikabarkan akan diluncurkan pada akhir 2020. Namun, setelah mempertimbangkan beberapa hal, akhirnya saya urung menunggu sampai seri itu keluar.

photo6242056987424696849-2

Saya akhirnya menjatuhkan pilihan prosesor pada Ryzen 7 3700X dengan beberapa alasan. Pertama, Ryzen 4000 Series dipastikan akan menggunakan soket AM4 yang sama dengan Ryzen 3000 Series, sehingga saya masih punya pilihan upgrade ke 4000 Series di masa depan. Kedua, saya ragu bisa mendapatkan Ryzen 4000 Series, apalagi mendapatkannya dengan harga wajar pada waktu peluncurannya, mengingat keadaan pandemi yang masih berlangsung. Ketiga, lompatan performa dari i7-4790 ke Ryzen 7 3700X sendiri saya proyeksi sudah sangat signifikan, sementara seberapa dramatis perbedaan antara 3000 Series dengan 4000 Series masih belum ada gambaran.

Untuk Motherboard, masih terkait kemampuan upgrade ke 4000 Series, saya memilih Chipset X570 alih-alih B550. Alasannya simpel, karena X570 mendukung PCIe generasi ke-4. Untuk model Motherboardnya sendiri keputusan jatuh pada Asus X570-P, Motherboard chipset X570 terbaik di kelas entry-level menurut beberapa sumber. Jujur, saya shock melihat harga Motherboard kekinian, dulu seingat saya dengan budget Rp2,5 juta kita sudah bisa mendapatkan Motherboard chipset teratas kelas menengah ke atas, bahkan kelas gaming. Sekarang, dengan uang segitu kita baru dapat chipset atas kelas entry-level. Waduh!

Untuk casing, saya sudah lama jatuh cinta pada NZXT, jadi saya pilih NZXT H510 Elite karena estetika dan sistem manajemen kabelnya. Di kemudian hari saya baru tahu bahwa casing ini memiliki masalah aliran udara karena intake-nya yang kecil. Kemudian untuk meramaikan penampilan, RAM yang saya pilih adalah 2x16GB Corsair Vengeance Pro RGB DDR4 3200MHz. Surprisingly, harga untuk RAM premium tersebut hanya lebih mahal sekitar Rp200.000 dengan kit RAM saya sebelumnya, DDR3 tanpa heatspreader merk lokal yang memiliki kecepatan tepat separuhnya!

Berikut adalah spek akhir keseluruhan setelah pembaruan:

  • CPU AMD Ryzen 7 3700X
  • CPU cooler Noctua NH-U12S Chromax Black
  • Motherboard Asus X570-P
  • RAM Corsair Vengeance Pro RGB White 2x16GB 3200MHz
  • GPU MSI GTX 1070 Ti Gaming (komponen lama)
  • PSU Corsair RM750
  • Casing NZXT H510 Elite
  • SSD Samsung 970 Evo M.2 NVMe 500GB
  • SSD Samsung 860 Evo SATA 500GB (kado dari teman-teman <3)
  • HDD Seagate? WD? Saya lupa merknya, 2TB (komponen lama)

Performa

Sewaktu belum memperbarui PC, saya pernah bertanya di chatroom komunitas gamer yang saya ikuti tentang kemampuan GPU GTX 1070 Ti memainkan titel-titel kekinian di resolusi 1440p. Jawaban sesama pengguna GPU itu kebanyakan menyebut masih bisa mendapatkan rerata di atas 60 FPS dengan konfigurasi high. Saya lega mendengarnya, berbekal informasi tersebut saya akhirnya memesan monitor Asus VG27AQ yang memiliki resolusi 1440p.

Hasilnya? Saya bingung. Mencapai 40 FPS saja kesulitan di game yang tidak bisa disebut baru lagi seperti The Witcher 3 dan Rise of The Tomb Raider. Semua terjawab setelah saya memperbarui PC saya tadi. Performanya meningkat tajam, sehingga membenarkan pernyataan teman-teman tadi: > 75 FPS di The Witcher 3, > 80 FPS di Rise of The Tomb Raider. Ternyata selama ini GPU saya didera bottleneck oleh CPU lawas saya dan kawan-kawannya!

Perasaan saya lega sekaligus puas sekali setelah melakukan pembaruan tersebut.

Target Selanjutnya

Sebenarnya PC impian saya belum rampung. Masih ada dua item lagi yang ingin saya pasang, yaitu GPU RTX 3000 Series yang baru meluncur dan SSD PCIe generasi ke-4.

Saya masih belum menentukan GPU yang akan saya pilih, apakah RTX 3070, atau RTX 3080. Untuk keperluan future-proofing, pilihan terbaik tentu RTX 3080, tetapi saya masih ragu tentang kebutuhan energinya yang mencapai 320W. RTX 3070 menjadi pilihan yang lebih ekonomis, tetapi yang saya perhatikan memorinya masih menggunakan GDDR6, tidak seperti RTX 3080 yang menggunakan GDDR6X.

Sebagai orang yang angin-anginan dalam menamati game, saya jadi suka menimbun game di dalam SSD/HDD saya, sehingga sekarang kapasitasnya sudah hampir penuh dan saya merasa perlu menambahkannya. Tadinya saya hanya ingin HDD berkapasitas 2-4TB saja agar ekonomis. Namun setelah saya pikirkan lagi, sayang juga jika interface PCIe generasi ke-4 yang dimiliki Motherboard saya tidak dipakai maksimal. Kemudian saya iseng mencari SSD PCIe generasi ke-4, ternyata untuk kelas Gigabyte Aorus berkapasitas 1TB dengan heatsink saja harganya masih cukup masuk akal, tidak seperti beberapa tahun lalu. Akhirnya, yang saya masukkan wishlist adalah SSD alih-alih HDD.

Doakan saya agar ada rezeki untuk mewujudkan final form PC saya ya! :D